DISLEKSIA
Apa yang terjadi
denganku? Dan apa yang salah dengan diriku?
Sekarang saya berumur 19 tahun,
tapi saya masih sulit untuk berbicara dan butuh kerja keras untuk saya memahami
pelajaran-pelajaran yang saya terima. Sering saya mengalami kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ingin
saya utarakan, terlebih di depan hal layak ramai. Terkadang kata-kata yang saya
ucapkan terbalik hingga membuat orang yang mendengarnya merasa bingung.
Sebenarnyna, pada saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar saya merupakan
salah satu murid yang sangat sulit untuk diajarkan. Tapi anehnya, saya juga
sering mendapatkan juara di kelas, walau hanya termasuk sepuluh besar. Saya
juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan saya, sampai akhirnya orang
tua saya memeriksakan diri saya ke dokter. Setelah mendapatkan berbagai macam
pemeriksaan dan tes-tes, dokter pun mengatakan bahwa saya mengalami
“disleksia”.
Disleksia merupakan suatu keadaan
dimana seseorang mengalami kesulitan dalam belajar, terlebih dalam hal membaca
dan menulis. Selain memengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga
ditengarai memengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya. Penderita
disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak
hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca
kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk
dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya
dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita
disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain,
ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti
uraian, panjang lebar.
Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan
sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau
perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita
sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan
konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia
bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik,
kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang
dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan.
Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan
menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat
tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima pembelajaran. Dan sampai saat
ini para ilmuwan atau peneliti belum dapat menemukan obat yang dapa
menyembuhkan disleksia.
Seputar dengan fakta-fakta diatas,
saya tidak lekas berserah diri. “Sebelum ajal berpantang mati” saya,
terlebih orang tua saya ingin sekali menyembuhkan “anugerah” ini. Walau
kedengarannya sangat sulit, tapi mereka tetap terus berusaha, hampir setiap
hari mereka bergantian untuk mengajarkan saya, mengenalkan huruf-huruf, angka,
kalimat, hingga bacaan berparagraf. Tapi saat saya membaca sebuah paragraf,
saya selalu mengulangi kata yang sama, dengan kata lain saya tidak membaca
kalimat yang dibawahnya hingga akhirnya orang tua saya menggunakan penggaris
untuk membantu saya membaca dengan benar.
Saat saya memasuki sekolah menengah
pertama, orang tua dan beberapa guru saya menganjurkan untuk menggunakan
berbagai macam warna pulpen untuk membedakan tulisan dan memudahkan saya
mengingat apa yang telah saya tulis. Metode tersebut pun sangat berpengaruh dan
membuat saya lebih mengerti tentang pelajaran-pelajaran yang bahkan kurang saya
senangi atau kuasai sebelumnya. Karena hal ini sangat membantu saya untuk
mengatasi kelemahan saya, sampai sekarang pun, saya berumur 19 tahun dan telah
memasuki semester 4 perguruan tinggi, saya selalu menggunakan berbagai macam
warna pulpen dan kertas.
Orang tua saya selalu mengingatkan
saya tentang sebuah peribahasa yang mereka ubah sedikit, “Guru kepalang
mengajar, bagai bunga tak jadi berkembang” yang
artinya jika Kita
belajar hendaklah dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Hal
tersebut selalu saya ingat dan menjadi acuan hidup saya. Walaupun dyslexia
disorder ini tidak mempunyai obat yang dapat menyembuhkannya, tetapi justru hal
yang menurut kita kecil, sebuah perhatian,
ternyata dapat memajukan seseorang yang mengalami gangguan ini, terbukti
pada saya. Dan mungkin saja di sekolah golongan ini dilecehkan kerana 'kebodohannya' untuk mencerna dan memahami
pelajaran. Padahal, daya imajinasi
penderita disleksia amat tinggi
mengalahkan guru besar sekolah mereka, contohnya Albert Einstein, Leonardo
Davici, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dunia yang mengalami disleksia tetapi
dapat mengubah dunia dengan kejeniusan mereka.
Apapun yang terjadi dengan dirimu,
janganlah cepat berputus asa!
Ingatlah, “diatas langit masih ada
langit, dan dibawah tanah pun masih ada lapisan-lapisan dibawahnya” Struggling^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar