Minggu, 07 April 2013

Disleksia



DISLEKSIA


                Apa yang terjadi denganku? Dan apa yang salah dengan diriku?

                Sekarang saya berumur 19 tahun, tapi saya masih sulit untuk berbicara dan butuh kerja keras untuk saya memahami pelajaran-pelajaran yang saya terima. Sering saya mengalami  kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ingin saya utarakan, terlebih di depan hal layak ramai. Terkadang kata-kata yang saya ucapkan terbalik hingga membuat orang yang mendengarnya merasa bingung. Sebenarnyna, pada saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar saya merupakan salah satu murid yang sangat sulit untuk diajarkan. Tapi anehnya, saya juga sering mendapatkan juara di kelas, walau hanya termasuk sepuluh besar. Saya juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan saya, sampai akhirnya orang tua saya memeriksakan diri saya ke dokter. Setelah mendapatkan berbagai macam pemeriksaan dan tes-tes, dokter pun mengatakan bahwa saya mengalami “disleksia”.

            Disleksia merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan dalam belajar, terlebih dalam hal membaca dan menulis. Selain memengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditengarai memengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya. Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar.

            Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima pembelajaran. Dan sampai saat ini para ilmuwan atau peneliti belum dapat menemukan obat yang dapa menyembuhkan disleksia.

            Seputar dengan fakta-fakta diatas, saya tidak lekas berserah diri. “Sebelum ajal berpantang mati” saya, terlebih orang tua saya ingin sekali menyembuhkan “anugerah” ini. Walau kedengarannya sangat sulit, tapi mereka tetap terus berusaha, hampir setiap hari mereka bergantian untuk mengajarkan saya, mengenalkan huruf-huruf, angka, kalimat, hingga bacaan berparagraf. Tapi saat saya membaca sebuah paragraf, saya selalu mengulangi kata yang sama, dengan kata lain saya tidak membaca kalimat yang dibawahnya hingga akhirnya orang tua saya menggunakan penggaris untuk membantu saya membaca dengan benar.

            Saat saya memasuki sekolah menengah pertama, orang tua dan beberapa guru saya menganjurkan untuk menggunakan berbagai macam warna pulpen untuk membedakan tulisan dan memudahkan saya mengingat apa yang telah saya tulis. Metode tersebut pun sangat berpengaruh dan membuat saya lebih mengerti tentang pelajaran-pelajaran yang bahkan kurang saya senangi atau kuasai sebelumnya. Karena hal ini sangat membantu saya untuk mengatasi kelemahan saya, sampai sekarang pun, saya berumur 19 tahun dan telah memasuki semester 4 perguruan tinggi, saya selalu menggunakan berbagai macam warna pulpen dan kertas.

            Orang tua saya selalu mengingatkan saya tentang sebuah peribahasa yang mereka ubah sedikit, “Guru kepalang mengajar, bagai bunga tak jadi berkembang” yang artinya jika Kita belajar hendaklah dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Hal tersebut selalu saya ingat dan menjadi acuan hidup saya. Walaupun dyslexia disorder ini tidak mempunyai obat yang dapat menyembuhkannya, tetapi justru hal yang menurut kita kecil, sebuah perhatian, ternyata dapat memajukan seseorang yang mengalami gangguan ini, terbukti pada saya. Dan mungkin saja di sekolah golongan ini dilecehkan kerana 'kebodohannya' untuk mencerna dan memahami pelajaran. Padahal, daya imajinasi penderita disleksia amat tinggi mengalahkan guru besar sekolah mereka, contohnya Albert Einstein, Leonardo Davici, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dunia yang mengalami disleksia tetapi dapat mengubah dunia dengan kejeniusan mereka.


            Apapun yang terjadi dengan dirimu, janganlah cepat berputus asa!

Ingatlah, “diatas langit masih ada langit, dan dibawah tanah pun masih ada lapisan-lapisan dibawahnya” Struggling^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar